JAKARTA: Daya tahan bursa Indonesia pada perdagangan kemarin kembali diuji pada perdagangan hari ini, menyusul belum adanya indikasi atau sinyal teknis penguatan lanjutan.

Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan bergerak variatif (mixed) dengan kecenderungan menguat.

"Indeks akan bergerak mixed dengan kecenderungan menguat. Secara teknis belum terlihat indikasi indeks dapat mengalami rally lebih lanjut," tutur analis PT Panin Sekuritas Tbk Purwoko Sartono, kemarin.

Langkah Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate kemarin, lanjutnya, menjadi sentimen positif di bursa domestik sehingga terjadi penguatan di saham sektor properti.

Dia memperkirakan IHSG bergerak pada titik topang 2.468 dengan titik resisten 2.497 setelah kemarin menguat tipis 0,56 poin (0,02%) ke level 2.480,41. Indeks pada Senin sempat menyentuh titik terendahnya pada level 2.454,04.

"Sepanjang sesi kedua indeks tertekan akibat anjloknya harga komoditas dan bursa regional," komentar Purwoko.

Kenaikan IHSG itu terjadi di tengah tren koreksi bursa regional. Indeks Nikkei-225 melemah 0,59%, disusul indeks KOSPI yang terkoreksi 29%. Sebaliknya, indeks Hang Seng menguat 0,26%.

Secara umum, bursa mencatatkan nilai transaksi Rp4,13 triliun menyusul kenaikan 115 saham, dan koreksi 68 lainnya. Sebanyak 79 saham ditutup stagnan.

Pada awal pekan, indeks BISNIS-27 bergerak melemah akibat minimnya sentimen positif yang beredar di pasar, mendorong investor untuk merealisasikan gain sepanjang pekan kemarin yang mencatat pertumbuhan sebesar 2,5%.

Indeks BISNIS-27, kemarin ditutup di level 224,64 melemah tipis 0,22% dari posisi penutupan Jumat akhir pekan lalu yang berada di level 225,14.

Saham perbankan mendominasi saham-saham penekan indeks yang dipengaruhi profit taking dari penguatan sepekan sebelumnya. Penguatan itu ditopang oleh laju inflasi September yang terkendali dan posisi BI Rate yang akan tetap di level 6,5%.