BOJ dukung kebijakan moneter Fed jelang G-20



Gubernur bank sentral Jepang pada Jumat memberikan dukungannya terhadap langkah kebijakan Federal Reserve AS, seraya mengatakan hal itu akan menjai lebih alami dan tepat bagi Fed untuk mempertimbangkan kembali pengenduran program kebijakan moneternya karena beliau menganggap pemulihan ekonomi AS kian menguat.

Gubernur BOJ, Haruhiko Kuroda, berbicara sesaat sebelum para menteri keuangan yang tergabung dalam Grup 20 negara industri terkemuka dan negara berkembang memulai KTT selama dua hari, dimana proyeksi kebijakan the Fed policy diperkirakan akan menjadi diskusi panas.

"Di saat ekonomi AS semakin memulih, ini sangat alami dan tepat untuk pengenduran kebijakan moneter tersebut dijalankan," Kuroda katakan kepada wartawan.

Omentar Kuroda tersebut menggaris bawahi ketegangan antara para anggota G-20 mengenai jalan keluar pengenduran moneter yang agresif. Negara-negara berkembang mendesak bank sentral negara maju untuk menyesuaikan kebijakan dengan hati-hati karena mereka berjuang mengatasi dampak sepkulasi pergeseran kebijakan Fed, seperti arus modal keluar dan pelemahan tajam mata uang mereka.

Kuroda juga mengatakan langkah pengenduran yang dimiliki BOJ tidak lagi menjadi fikus perhatian para pembuat kebijakan G-20. Para pejabat luar negeri cenderung lebih tertarik dalam overhaul fiskal dan struktural yang sedang diselesaikan oleh pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe, beliau mengatakan. Kuroda mengatakan dia hanya akan menawarkan perkembangan terkini pengenduran moneter agresif BOJ yang diluncurkan di awal April "jika keperluan itu muncul" selama pertemuan tersebut.

Dia kembali menegaskan sikapnya bahwa terlalu dini bagi BOJ untuk merencanakan penarikan kebijakan pengenduran di kemudian hari, dengan laju inflasi Jepang masih jauh di bawah target bak sentral, yakni 2%. "Sudah tiga bulan setengah sejak kami memulai program pengenduran saat ini, namun harga konsumen Jepang masih belum naik, Kuroda mengatakan.

"Tidak ada yang dikatakan lagi selain kami akan mati-matian dengan program kebijakan pengenduran kuantitatif dan kualitatif."

Kuroda berusaha meredam sepkulasi bahwa Dana Moneter Internasional (IMF) saat ini melihat beragam kebijakan Perdana Menteri Abe sebagai ancaman resiko bagi ekonomi dunia. "Sederhananya," IMF hanya menginginkan pemerintah Jepang menindaklanjuti janji untuk membenahi keuangannya n menerapkan langkah-langkah untuk mendorong potensi pertumbuhan negara, Kuroda mengimbuhkan.