(Vibiznews Economy) Rupiah pada perdagangan hari ini sempat mengalami pembukaan negatif, akan tetapi saat ini sudah kembali tampak menguat terbatas (08/02). Mata uang rupiah secara umum kecenderungannya masih melemah terhadap dolar AS. Beberapa data ekonomi dalam negeri yang kurang baik memicu para investor untuk melepaskan rupiah.

Data inflasi, neraca perdagangan dan cadangan devisa dalam negeri memberikan sentimen negatif terhadap pergerakan rupiah. Pagi ini rupiah sempat mengalami pembukaan pada posisi Rp9705 per dolar AS, mengalami penurunan sebesar 10 poin dibandingkan dengan posisi penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di level Rp9695 per dolar AS.

Akan tetapi saat ini rupiah tampak mereda dan kembali ke teritori positif, tertahan di posisi Rp9678 per dolar AS. Pergerakan mata uang lokal ini masih tertahan oleh aksi intervensi yang dilakukan oleh Bank Indonesia. Beberapa kebijakan teknis juga sudah dilaksanakan oleh bank sentral untuk meredam pergerakan rupiah agar tidak turun terlalu tajam.

BI akan terus berada di pasar agar nilai tukar terdeviasi tak terlalu jauh dari faktor fundamentalnya. BI akan menciptakan onshore reference rate sehingga pelaku pasar di dalam negeri tidak menggunakan Non Deliverable Forward (NDF) di luar negeri (offshore) dalam quotasi transaksinya.
Bank Indonesia juga berencana mengirimkan surat kepada bank komersial untuk melarang perdagangan rupiah non deliverable forward (NDF) dan meminta untuk menggunakan pasar rupiah onshore. BI akan memaksa perbankan untuk menggunakan patokan suku bunga lokal.

Kedua kebijakan tersebut diharapkan akan dapat menahan laju pelemahan rupiah. Rupiah diharapkan masih akan mampu ditahan agar tidak keluar dari level support Rp9700 per dolar. VBN